Inflasi Juli 2026 Diperkirakan Melandai setelah Tekanan BBM dan Tarif Pesawat Mereda
Laju inflasi Indonesia pada Juli 2026 diproyeksikan melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Meredanya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta normalnya tarif tiket pesawat setelah berakhirnya musim libur sekolah menjadi faktor utama yang diperkirakan menahan kenaikan harga barang dan jasa.
Baca Juga “FLOQ dan tiket.com Dorong Adopsi Kripto Lewat Reward Perjalanan“
Sejumlah ekonom menilai tekanan inflasi pada Juli tidak lagi sebesar Juni. Selain didukung penurunan harga energi, stabilisasi beberapa komoditas pangan turut membantu menjaga inflasi tetap terkendali meskipun masih terdapat sejumlah risiko dari sisi biaya dan nilai tukar.
Ekonom CORE: Tekanan Inflasi Musiman Mulai Berkurang
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperkirakan inflasi Juli bergerak lebih rendah dibandingkan Juni 2026. Menurutnya, lonjakan inflasi pada bulan sebelumnya lebih banyak dipicu faktor musiman, terutama penyesuaian harga BBM dan kenaikan tarif angkutan udara selama periode liburan sekolah.
Pada Juni 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,44 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,34 persen. Kenaikan tersebut didominasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), bukan karena meningkatnya permintaan masyarakat secara menyeluruh.
Memasuki Juli, tekanan tersebut mulai mereda. Penurunan harga BBM non-subsidi dan avtur diperkirakan mengurangi beban biaya transportasi. Di saat yang sama, tarif angkutan udara kembali normal seiring berakhirnya periode libur sekolah.
Yusuf juga menilai perbaikan harga beberapa komoditas pangan strategis, seperti cabai dan minyak goreng curah, ikut membantu menahan laju inflasi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan diperkirakan kembali mendekati level 3 persen apabila tidak terjadi gangguan signifikan pada sisi pasokan.
Risiko Inflasi Masih Berasal dari Pendidikan dan Nilai Tukar
Meski prospek inflasi membaik, Yusuf mengingatkan bahwa ruang penurunan masih terbatas. Awal tahun ajaran baru berpotensi mendorong kenaikan biaya pendidikan yang tercermin dalam kelompok jasa pendidikan.
Selain itu, inflasi inti masih bertahan pada level tertentu sehingga menunjukkan adanya tekanan harga yang belum sepenuhnya hilang. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku maupun barang konsumsi sehingga dapat memengaruhi harga di tingkat domestik.
Faktor-faktor tersebut menjadi alasan mengapa inflasi diperkirakan melambat, tetapi belum turun secara signifikan.
INDEF: Inflasi Bulanan Diperkirakan Berkisar 0,10–0,20 Persen
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman. Ia memperkirakan inflasi Juli berada pada kisaran 0,10 hingga 0,20 persen secara bulanan dengan titik tengah sekitar 0,15 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan diperkirakan berada di sekitar 3,4 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.
Menurut Rizal, tekanan harga masih dipengaruhi fluktuasi komoditas pangan, potensi gangguan pasokan akibat cuaca, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya barang impor. Namun, tekanan tersebut masih dapat diimbangi oleh permintaan domestik yang belum terlalu kuat dan belum adanya penyesuaian besar pada harga barang yang diatur pemerintah.
Faktor yang Berpotensi Mempengaruhi Inflasi Berikutnya
Pergerakan inflasi dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan tetap dipengaruhi sejumlah faktor utama, antara lain perkembangan harga energi global, stabilitas pasokan pangan, kondisi cuaca, serta kebijakan pemerintah terkait harga yang diatur negara.
Selain itu, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan pergerakan nilai tukar rupiah juga akan menjadi variabel penting dalam menjaga stabilitas harga. Apabila harga energi tetap stabil dan pasokan pangan terjaga, inflasi berpeluang bergerak sesuai target bank sentral.
Secara keseluruhan, prospek inflasi Juli 2026 menunjukkan tren yang lebih terkendali dibandingkan bulan sebelumnya. Meredanya tekanan harga BBM dan normalisasi tarif angkutan udara menjadi penopang utama perlambatan inflasi. Meski demikian, risiko dari sektor pendidikan, pangan, dan nilai tukar masih perlu dicermati agar stabilitas harga tetap terjaga pada paruh kedua 2026.
Baca Juga “Bandara Husein Sastranegara Diaktifkan Lagi, Farhan Siapkan Promosi Meski Tiket Diprediksi Mahal“